Jumat, 19 April 2013

Tugas komentar artikel Kompas 1 April 2013 Guru dalam Pembelajaran

 
Guru Kunci Kurikulum
Guru dan kurikulum ialah dua hal yang tak dapat berdiri sendiri. Artinya, kurikulum tak dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai rencana tanpa adanya guru. Guru di sini tentunya ialah guru yang professional. Pasalnya guru merupakan kunci dari pembelajaran di dalam kelas. Sebaliknya, guru tanpa adanya kurikulum pun seperti nahkoda tanpa kapal. Guru sebagai nahkoda yang bertanggungjawab terhadap kapal beserta isinya, yang menentukan mau dibawa kemana arah pendidikan Indonesia.
Sejatinya, kurikulum merupakan suatu pengalaman belajar yang hendak diberikan pada siswa melalui pembelajaran yang dipimpin oleh guru. Pengalaman belajar itu hendaknya tidak hanya terpaku pada teks dan dalam ruangan kelas. Pembelajaran yang baik ialah pembelajaran yang dapat menjadikan anak didik berpikir out of the box. Jadi, siswa tidak hanya terpaku ada contoh tapi juga dapat mengaplikasikannya di kehidupan nyata. Namun, tak mudah untuk mencapai hal itu, maka guru sebagai pembimbing haruslah kreatif dalam mengemas pembelajaran di sekolah.
Dengan adanya pergantian kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 peran guru semakin dipertanyakan. Pelatihan yang diadakan oleh pemerintah guna menyiapkan implementasi kurikulum 2013 terkesan terlalu mendadak. Padahal, segala sesuatu yang mendadak tidak dipersiapkan secara matang-matang tak akan menghasilkan sesuatu sesuai yang diharapkan. Justru yang harus dilakukan oleh pemerintah ialah bukan hanya menyediakan buku panduan untuk kurikulum 2013 tapi mengajak guru untuk melakukan simulasi pembelajaran yang baik di sekolah-sekolah tertentu yang sudah menjadi bahan uji coba kurikulum 2013.
Pergantian kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 seharusnya tak menjadi masalah bagi guru. Masalah siap atau tidak siap itu tergantung pada guru itu sendiri. Ada atau tidaknya pelatihan dan sosialisasi tentang kurikulum guru tak perlu cemas. Guru telah terbiasa berhadapan langsung dengan para peserta didik di sekolah. Apapun tujuan yang hendak disampaikan dari suatu kurikulum medianya hanya guru. Oleh karena itu, guru hendaknya tidak selalu dibiasakan diarahkan tetapi diberikan kesempatan untuk mengembangkan pembelajaran yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Profesionalisme seorang guru telah menjadi topik yang hangat sekaligus menjamur di dunia pendidikan Indonesia. Dana sertifikasi dan tunjangan profesi tak bisa digunakan untuk mengukur keprofesionalan seorang guru. Memang benar, karena tak sedikit guru yang setelah mendapatkan dana tunjangan tersebut hanya sebagian kecil guru yang benar-benar melakukan perbaikan pada kualitas pengajaran di sekolah. Hal itu dikarenakan portofolio yang dimiliki oleh guru hanya dijadikan batu lompatan untuk mencapai sertifikasi.
Tak sedikit masalah yang timbul akibat adanya sertifikasi guru yang menaikkan gaji guru menjadi dua kali lipat. Hal ini yang hendaknya menjadi koreksi bagi pemerintah. Guru yang harusnya menjadi contoh yang baik malah melakukan tindakan-tindakan yang kurang beretika dan tidak menujukkan perilaku berpendidikan. Beberapa waktu lalu banyak kasus yang menyebutkan akibat naikknya gaji, guru-guru yang tidak bertanggung jawab melakukan perselingkuhan. Apakah hal itu menunjukkan keprofessionalan?
Profesionalisme seorang guru sebenarnya dapat dinilai dari empat kompetensi yang harus dikuasai. Empat kompetensi itu ialah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Dengan demikian yang harus dilakukan pemerintah ialah melakukan uji keempat kompetensi tersebut. Tak hanya itu, namun yang diperlukan ialah pengawasan dan pendampingan terhadap sejauh mana guru bertindak dalam mendidik dan mengajar di sekolah.
Peran guru dalam pembelajaran di sekolah memang sangat penting seperti yang telah diungkapkan di awal, ibarat kapal ialah kurikulumnya nahkodanya itu guru. Nahkoda yang handal dapat menjalankan kapal dengan berbagai model. Penumpang kapal yang dalam hal ini ialah peserta didik pun berasal dari latar belakang yang beragam. Hal itu berarti sebenarnya yang mengatahui seluk beluk kurikulum ialah guru. Pasalnya, kurikulum hanyalah sebuah media untuk membimbing siswa mencapai tingkat pemahaman sesuai dengan yang diharapkan.
Guru yang baik ialah guru yang mampu mentransfer ilmu kepada siswanya dengan baik. Namun, tak semua guru dapat melakukaknnya dengan baik. Banyak kendala yang ditemukan di dalam kelas. Mulai dari keberagaman pribadi anak, sampai pada materi pelajaran dan sarana dan prasarana yang ada. Solusi dari semua masalah itu ialah kekreatifan seorang guru dalam mengelola kelas. Kreativitas guru di dalam mengelola kelas akan sangat terlihat pada saat proses pembelajaran.
Pembelajaran di kelas hendaknya menyenangkan, bukan membosankan apalagi menegangkan. Ada banyak pilihan metode dalam menyampaikan materi di kelas. Guru juga dapat mengajak siswa untuk keluar kelas guna mengamati lingkungan sekitar dan dapat mengambil pelajaran dari kegiatan masyarakat di kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru juga harus bisa melibatkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Jadi ada interaksi antara pendidik dan peserta didik di dalam kelas.
Implementasi kurikulum atau pengalaman belajar hendaknya disesuaikan dengan tingkat usia dan tingkat pemahaman anak. Dengan artian guru harus dapat menakar porsi materi pembelajaran yang akan diberikan di dalam kelas. Selain itu, guru yang professional juga dapat mengetahui berbagai macam cara belajar anak, dan potensi masing-masing anak didik. Hal ini akan memudahkan guru dalam memilih dan menentukan teknik dan metode pembelajaran yang efektif.
Jadi, apapun kebijakan baru pemerintah untuk pendidikan, selama itu bertujuan untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia guru harus siap kapan saja. Guru memang kunci dari pembelajaran akan tetapi pembelajaran tidak selalu berpusat pada guru. Guru hanya perlu memilih senjata yang tepat dalam melaksanakan kurikulum di sekolah. Senjata itu ialah kreativitas dalam menentukan teknik dan metode dalam mendidik dan mengajar siswa di sekolah. Apapun kurikulumnya kuncinya ada di tangan guru.

Nurul Khikmah
11108241122
Mahasiswa PGSD FIP
Universitas Negeri Yogyakarta

Selasa, 12 Februari 2013


Muatan pertama di 2013 :)
Harian Jogja, 11 Februari 2013
Gelar Bukan Sekedar Tenar
Siapa yang tidak merasa bangga jika diberi gelar bangsawan? Suatu kehormatan tersendiri yang tidak semua orang dapat menerimanya. Dan tentunya tidak mudah untuk menjaga nama baik seorang bangsawan yang dipandang baik oleh semua kalangan masyarakat. Namun, sekarang gelar bangsawan begitu mudahnya disematkan ada seseorang yang cukup mempunyai nama di depan publik.
Dahulu gelar bangsawan diberikan pada orang yang berjasa pada keraton. Namun berbeda dengan sekarang penganugrahan gelar bangsawan hanya mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu.  Hendaknya penyematan gelar bangsawan sebagai warisan budaya haruslah berdasarkan pertimbangan yang matang. Dalam hal ini, termasuk pertimbangan sikap dan karakter sesorang sehingga dapat terus menjaga nama baik dan melestarikan budaya yang kian luntur termakan jaman.
Fenomena yang marak terjadi pada saat ini ialah para artis yang secara instan diberi gelar bangsawan oleh beberapa keraton. Seharusnya mereka yang telah mendapatkan gelar dapat menjaga dirinya sebagai bangsawan bagian dari keraton. Tak hanya mementingkan sebuah nama gelar untuk ketenarannya belaka. Bahkan isu yang muncul di permukaaan menyatakan bahwa gelar bangsawan tela diperjual-belikan begitu saja. Hal ini tentu saja mencoreng nama baik dari keraton.
Untuk itu keraton harus lebih selektif lagi dengan banyak pertimbangan dalam menganugrahkan gelar bangswan kepada seseorang. Sehingga akan berdampak positif bagi keraton. Demikian pula seseorang yang telah mendapatkan kehormatan sebuah gelar bangsawan hendaknya senantiasa menjaga etika dan perilaku yang sudah seharusnya ditunjukkan seorang bangsawan keraton.

Nurul Khikmah
Mahasiswi PGSD/FIP
Universitas Negeri Yogyakarta

Kamis, 27 Desember 2012


STUBA REALITY VS GS2
Studi banding. Hanya sebuah alasan biar bisa liburan. Yeaahh, studi banding ke Semarang. Tepatnya si ke Universitas Negeri Semarang, atau Unnes. Studi banding antar UKMF tentang kepenulisan dan penelitian gitu deh. Kami rombongan dari UNY ada dua bis, jumlah lumayan banyak lho, 53 kepala hehe. Tapi, kebanyakan dari kami pasukan Kartini, hehe cowoknya tuh bisa diitung pake jari tangan doang deh J.
15 Desember 2012 pagi buta kira-kira jam tengah 3 beranjak dari kamar kost. Waaauuw banget to?? Bukan langsung capcus sih, tapi masak dulu. Ya itung2 sauur dulu deh biar gak kelaperan di jalan. Shubuh2 berangkat bareng rombongan dari Wates kira-kira 8 orang cewek semua loh J. Edisi perdana nih, pake motor sepagi itu. Kalo kata temen yang aku boncengin sih, ini Nurul masih ngantuk apa ya? Naik motornya minggir2 ke kanan. Haha itu posisi mataku meleng gak bisa liat jalan, sedangkan medan agaknya tidak mendukung. Naik turun, kelak-kelok. Untungnya aja aku gak di depan, masih ngekor sama temen J.
Start dari Kampus Bantul katanya sih jam 5. Tapi boro-boro deh kita yang udah jauh-jauh dari Wates bela-belain berangkat kedinginan sambil melek merem malah di TKP masih sepi coy, padahal udah jam 5.30 loh L. Ya udah deh, aku maafin haha. Singkat kata, perjalanan ke Unnes tuh, gak kalah lamanya kayak dari Kebumen-Wates. Malah lebih lama, berangkat jam tengah 7 sampe Unnes jam 10. Sayangnya, di bis akunya sambil melek merem juga. Efek minum antimo sih J. Pas udah di Ungaran ada tulisan Unnes 12 km again. Wah, ternyata 12km itu naik turun gunung terus gitu jalannya kecil. Hahaha masih cukup bangga deh kuliah di UNY ya walaupun di tempatin di Wates J.
Sampe di Unnes rombongan kami disambut sama anak-anak UKMF nya mereka yang namanya GS2. Singkatannya apa ya?? agak lupa sih, kalo gak salah Green Science S yang satunya lupa deh J. Mereka agak interest gitu deh sama rombongan Reality yang rata-rata anak PGSD haha. Yuuups, disana cuma 2 jam gitu lah, sharing-sharing sama tanya jawab dikit. Abis itu foto-foto deh J.
Ini nih fotonyaa….. aku yang pake jilbab ijo muda nongkrong di depan loh. Tapi kagak jelas juga sih hehe J.
Nah abis itu acara dilanjut ke…. Kemana coba?? Ya mana lagi kalo bukan tempat makan haha kan laper. Tapi sebelum makan tidak lupa ko menjalankan kewajiban sholat Dhuhur di masjid nya Unnes J. Baru deh makan di Mas Pur 4. Enak si tempatnya makanannya juga, tapi yang gak nguatin tuh lalatnya banyak banget minta dihajar L. Udah kenyang tinggal lanjjuuuuuuut wisata J itulah yang ditunggu. Rencana awal si tujuan mau ke Sam poo kong, Lawang sewu, Pantai Marina, sama Masjid Agung. Tapi karna ternyata waktunya molor gak jadi deh ke pantai nya L
Langsung aja ya, objek pertama Sam Poo Kong. Sempat nyasar si, yang harusnya gak nglewatin RS Kariadi, mlah keblabasan. Mungkin abang sopirnya belum pernah juga kali ya. hehe kayak aku yang baru pertama ke Semarang J. Sam Poo Kong itu semacam Vihara gitu deh, aku juga gak tau pastinya. Yang jelas masuknya murah Cuma 3rb *tanpa guide lho ya. yaah, disana cuman foto-foto doing J. Cekidoot…
Lanjut objek kedua, Lawang Sewu. Pasti ngiranya ada seribuu pintuu to?? Ya kayak aku deh, usut puny usut ternyata kata guide nya cuma ada kira 425 pintu loh. Lawing sewu dulu tuh kantor pusat perkereta apian saat jaman Belanda. Tapi pas direbut oleh Jepang disalah gunakan jadi tempat buat menjarain rakyat kita di ruang bawah tanah. Coba deh bayangin ruang yang kira 1 bilik 1m2 buat 5 orang. Gak cuman itu, para pahlawan kita itu penjaranya direndem air sampe seleher loh. Amazing sekali to? Sejarah emang bikin merinding deh. Bangunannya serem loh, apalgi ruang bawah tanahnya. Emmmm,, angker gitu deh haha. Turun juga musti pake sepatu boot bawa senter + pake guide.
Nah, terakhir ke Masjid Agung Semarang. Pernah liat kan di tv? Emang bener bagus banget deh, tapi sayang sampe disana tuh udah malem gak bisa foto-foto yang bagus L katanya si masjid paling bagus ya, tapi entah dimana haha kalo paing bagus di Indonesia sih gak tau juga kan masih ada Quba Mas. Tapi emang beneran bagus deh, ada paying-payung raksasa gitu yang bisa otomatis megar mingkup kayak di mekah hehe J. Subhannallah deh pokoknya. Jadi makin cinta sama Jawa Tengah J hehe. Gak kalah serunya, sampe-sampe pas mau wudhu kakiku masuk ke gorong-gorongnya yang salah satu besinya lepas. Heran deh kok muat yaa,, sakitnya pooooolll. Sampe bekasnya aja belum ilang nih L.
Gituuu deh sekilas tentang pengalaman pertama ku ke Ibukota Propinsi Jawa Tengah “Semarang”. Pulaaangnya sampe kampus bantul kira-kira jam 12 kalo gak salah. Niatnya si mau langsung capcus pulang ke Wates, tapi kayaknya gak memungkinkan deh tengah malem cewe-cewe pake motor jauuh banget lagi pada masuk angina pula. Akhirnya nginep deh di kampus Bantul. Berhubung senin mau ujian Pendidikan Komparatif, sebelum tidur baca buku dulu deh J #sok rajin dikit lah.

Selasa, 25 Desember 2012

2012 to 2013


Sekilas 2012nya Aku
2013 di depan mata. All right, that’s mean semester 4 juga di depan mata. Hwuaaahh entah apa sebenarnya yang udah aku dapetin. Rasanya 2012 ituu.. cepet banget. Dan ternyata, inilah sisa-sisa aku nikmatin hidup dengan umur belasan,, agustus 2013 udah kepala dua coy. That is amazing. Dua puluuh itu, great age. Udah gak muda lagi ternyata. Tapi aku rasa kedewasaan belum permanen tinggal dalam jiwa deh, haha .
Penginnya sih, 2013 bisa berubah deh. Bisa fokus sama tujuan hidup, and yang paling aku penginin, aku bisa lebih menghargai hidupku yang sederhana ini. Simple sih, tapi susah banget buatku untuk gak “ngeluh”. Banyak banget hal mudah banget ngebuat iri, tapi kenapa aku stag aja ga ada tindakan. Kayaknya si kurang passion gituu deh :D
Kenangan di taun 2012 yang lumayan bikin muka sumringah itu, yang pertama IPK semester pertama Alhamdulillah udah cumloude. Ya walupun gak gede-gede amat udah bisa tembus beasiswa, rasanya pertama dapet beasiswa ituu waoow banget deh. Tanggalnya si lupa, tapi kayaknya April 2012 deh. Saking senengnya cetakan struk dari ATM tak simpen di dompet teruus sampe tulisan besaran nominalnya sekarang udah luntur deh. Haha. Tapi yang bikin amazing lagi aku seneng bisa bantu orang tua. Untuk pertama kalinya dalam hidup bayar SPP sendiri ya walaupun nominalnya si gak gede. Hehe..
Masuk semester 2 tuh, wew banget dosen-dosennya. Tugasnya buuu,, gak nguatin. Yang paling bikin esmosi tuh pendidikan IPA hehe. *(maaf ya bapak sama ibu dosen) ^^ rasanya tuh gak adil banget lulusan IPS gak dingertiin sama sekali. Gak paham sama IPA nya anak SMA. Tapi Alhamdulillah dapet A- waahh itu udah membanggakan buat seorang Nurul, padahal UTS nya cuman dapet 27,5 hahaha. Pas nerima nilai itu tuh, serasa langit runtuh, terus hujan tumpah deh di kedua mata indahku haha.
Adalagi nih, gak cuman IPA. Mata kuliah PKTI juga bikin cenat-cenut. Yeaah, penulisan karya tulis ilmiah. Kontrak sama dosen tuh, kasih A kalo bisa tembus Koran. Hwuaahh, hebooh deh kompetisi dimulai. Aku yang sama sekali gak tau gimana caranya nulis di media pusing banget deh mikirin artikel. Nulis sih udah lumayan jadi hobi saat SMP. Bahkan cita-cita pengin jadi penulis cerpen ataupun novel. Tapi boro-boro tiap kali nulis cerpen pasti gak tamat. Haha. Nah, back to topick about “Koran”, usut punya usut teman sekelas udah pada tembus Koran. Hwuaaah kumat deh penyakit iri saya. herannya lagi, gak cuman 1 orang yang sekali nulis langsung bisa kemuat. Hebaaatt kali bukan?? Padahal usaha demi usaha sampe nulisnya aja aku diem-diem karna malu sama artikel sendiri, artikel ke-10 ku yang aku buat baru tembus Koran. Haha bagiku, ituuu usaha paling hebatku.
Ya, itu sekilas mata kuliah semester 2. Dan akhirnya gak disangka pula IP sem2 tuh bagus ngelebihin IP sem1. Once again, Alhamdulillah. Nah, ganti topic lagi deh.. tapi balik lagi ke beasiswa ya. hehe.. pas duit cair periode kedua tuh menjelang lebaran. Lumayan kan?? Nah, aku bingung nih, pengin tapi takut juga. Masalahnya kan itu duit dari pemerintah dan sebagian dari rakyat to?? Maksud hati si biar duit nya tuh gak abis sia-sia jadinya aku gunain buat beli sesuatu. Hehe awalnya si bingung mau beli apa kamera digital. Ya walaupun udah keluar model DSLR, camdig gak njaman tapi tetep akhirnya aku putusin buat beli camdig. ^^ (*sebenernya durhaka gak si ya?? :D haha)
Wah, hampir ketingglan kenangan pahitnya. 2012 tuh pertama kalinya aku kena cacar air. Huuuh, ternyata gak enak banget rasanya, udah gede malah udah tua kali ya, baru kena cacar hehe. Gak masuk kuliah seminggu abis lebaran. Muka parah banget bentol-bentolnya. Gak bisa tidur, and yang paliing parah… gak mandi satu minggu coy. Hahaha bisa bayangin ga baunya kayak apa kusutnya juga??wkwk. Dan sedihnya, ternyata bekasnya belum ilaang nih.. L
Sekarang udah sem 3 nih. Harapannya si bisa melewati ujian akhir dengan sukses J. Terus semoga di taun depan bisa tetep dapet beasiswa, aminn J. Harapan kedua, jerawat di muka saya bisa hilaang semuanya, haha amiin. Harapan selanjutnya, bisa jadi perempuan yang sesungguhnya, ya semoga bisa jadi sedikit kalem deh J. Harapan terbesar… pengin mengembalikan semangat juang hidup  yang kurasa sempat hilang deh. Biasanya masih mencla mencle juga. Semoga besok udah bisa konsisten dan dewasa dalam setiap langkah J
Tapi, ada yang lebih penting lagi loh. Hehe, ada banyak kenangan yang kayaknya gak perlu di publish J cukup ini aja deh yaa.. semangat!!!!
2013…… siapa takuuutt??? J

Rabu, 28 November 2012


Artikel Koran “Kedaulatan Rakyat”
Kolom Peduli Pendidikan
Tanggal muat 14 Mei 2012
Oleh Nurul Khikmah 

GURU SD HARUS MULTITALENT
Pendidikan dari jaman ke jaman semakin menunjukan eksistensi di dalam perkembangannya. Hal ini ditandai dengan seringnya pergantian aturan dan kurikulum pendidikan. Materi yang awalnya diajarkan di jenjang SMA sekarang diajarkan di jenjang SMP. Demikian pula dengan materi SMP sekarang masuk ke dalam bahan ajar materi sekolah dasar (SD). Oleh karena itu tak jarang bila banyak guru SD yang sudah senior mengalami kesulitan penguasaan materi dalam proses kegiatan  belajar mengajar (KBM).
Guru kelas dituntut untuk bisa mentransfer ilmu hampir semua mata pelajaran sekolah dasar kepada para siswa. Selain itu, banyak ditemukan juga guru kelas yang merangkap jadi guru olahraga di sekolah. Bahkan, sekalipun itu guru perempuan, walaupun sekarang banyak ditemukan guru penjaskes SD perempuan, tapi kalau memang dasarnya guru kelas sebenarnya bertugas di dalam kelas. Tak hanya itu, jika sekolah masih kekurangan tenaga guru pun, guru kelas menjadi wali dua kelas.
Menjadi guru SD tidaklah semudah yang dibanyangkan. Selain modal ilmu, jadi guru juga harus punya kesabaran yang lebih dalam menyampaikan pelajaran di kelas. Bagi siswa SD, sekolah ialah ladang bermain dan berkumpul dengan teman-teman mereka. Di sisi inilah guru harus bisa menempatkan diri sebagai guru kelas juga sebagai guru BK. Siswa SD juga membutuhkan bimbingan. Jika di SMP atau SMA sudah ada guru BK tersendiri, di SD guru adalah pendidik dan pembimbing. Kebutuhan akan layanan bimbingan di sekolah dasar bertolak dari kebutuhan dan masalah perkembangan siswa. Masalah perkembangan siswa sekolah dasar menyangkut aspek perkembangan fisik, kognitif, pribadi dan sosial. Sehingga guru harus memahami setiap karakteristik siswa yang berbeda-beda.
Bimbingan merupakan bagian terpadu dari proses pendidikan. Jadi, proses pendidikan bukanlah proses pengembangan aspek intelektual semata, melainkan proses pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa. Begitu pentingnya bimbingan di sekolah dasar. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan sekolah dasar membutuhkan guru yang profesional. Di mana ada 4 kompetensi professionalisme seorang guru yaitu: pedagogis, kognitif, sosial dan kepribadian.
Tanggung jawab seorang guru SD memang besar. Mendidik sosok calon-calon generasi penerus yang menjadi tonggak masa depan bangsa. Dalam pemberian materi pelajaran hendaknya diikutsertakan tentang nilai-nilai budi pekerti yang kian tahun semakin luntur. Bimbingan yang diarahkan guru bertujuan agar siswa SD dapat merealisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan kemampuan diri, dan menuntun siswa agar memiliki moral dan etika yang baik.
Patut diacungi jempol para guru sekolah dasar. Seorang multitalent yang mengabdikan dirinya untuk siswa-siswa sekolah dasar. Tak hanya sekadar menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan namun juga psikologi bagi anak. Menanamkan karakter yang baik sejak dini akan menjadi bekal siswa dalam perkembangan usia mereka yang nantinya memasuki dunia yang lebih luas lagi cakupannya. Sehingga anak dapat mengemban tugas dengan baik sebagai generasi penerus, yang diharapkan bagi masyarakat yaitu generasi penerus yang bertanggung jawab dan bermoral.

Nurul Khikmah
Mahasiswi PGSD FIP UNY 

Artikel Koran “Harian Jogja”
Kolom Jagongan
Tanggal 5 Mei 2012
Oleh Nurul Khikmah

MENJADI GURU YANG LUAR BIASA
Hari Pendidikan Nasional yang telah diperingati 2 Mei lalu, seharusnya dapat menjadi suatu perenungan terhadap dunia pendidikan Indonesia. Tak hanya sekedar mengheningkan cipta dan upacara bendera, namun diharapkan hari pendidikan yang tiap tahun dirayakan mutunya pun kian maju. Pendidikan tak lepas dari peran guru sebagai pendidik. Untuk mencapai pendidikan yang bermutu, dibutuhkan tenaga pendidik yang bermutu pula.
Guru sebagai agent of change  hendaknya senantiasa turut mengikuti perkembangan zaman sesuai perkembangan para peserta didik. Tak hanya dalam bidang pengetahuan, menjadi guru yang luar biasa juga harus menguasai di segala bidang. Guru yang luar biasa adalah guru yang professional. Profesionalisme seorang guru terdiri dari empat kompetensi, yaitu: kompetensi kepribadian, sosial, pedagogik, dan profesi.
Dengan empat kompetensi tersebut diharapkan yang bisa mengembangkan kemampuan siswa di bidang kognitif, afekstif dan psikomotor. Guru yang dalam Bahasa Jawa nya dikenal dengan istilah digugu lan ditiru, memang harus memberikan contoh atau teladan yang baik bagi semua siswa. Khususnya di bidang moral. Karena guru ialah panutan bagi para siswa, orang tua kedua di sekolah.
Hakekat atau inti dari belajar itu sendiri ialah adanya perubahan perilaku. Perubahan disini yaitu perubahan yang positif. Jadi, tak hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan namun juga internalisasi pembentukan kepribadian. Seseorang dengan pribadi yang baik, lebih susah ditemukan daripada orang yang cerdas. Tak jarang ditemukan orang-orang yang berpendidikan dan kecerdasan intelektualnya tinggi tetapi perilakunya buruk.
Guru yang biasa-biasa saja hanya melakukan pembelajaran sesuai dengan tuntutan materi di bidang akademik. Akan tetapi menjadi guru yang luar biasa selalu menanamkan nilai-nilai moral yang baik dalam setiap pembelajaran. Oleh sebab itu, guru hendaknya mengetahui tingkat kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangannya. Tak hanya perkembangan kognitif semata, tapi tentunya perkembangan psikologis peserta didik. Karena guru bukan hanya pendidik tapi juga sekaligus pembimbing.
Perubahan pada guru diharapkan bisa merubah pendidikan Indonesia di masa depan untuk generasi yang akan datang. Sehingga pendidikan yang luar biasa berangkat dari guru yang luar biasa. Karena dengan pendidikan bangsa ini bisa berkembang.

Nurul Khikmah
Mahasiswi PGSD FIP UNY


Artikel Koran “ Merapi”
Kolom Ngudarasa
Tanggal muat 5 Mei 2012
Oleh Nurul Khikmah

“CALON MAHASISWA JANGAN ASAL MASUK PGSD”
Di tengah hiruk pikuknya UN SMA yang telah usai beberapa waktu lalu, masih ada permasalahan yang perlu untuk di cermati dalam dunia pendidikan. Saat UN selesai, tak begitu saja melepas beban dari pundak para siswa dan guru SMA. Kecemasan belum berakhir, mungkin bisa dikatakan UN baru awal mula dari sebuah perjuangan. Perjuangan untuk memperoleh perguruan tinggi nantinya. Namun, nilai Ujian Nasional tidak berpengaruh untuk masuk PTN. Masuk PTN pada jurusan yang diminati ialah harapan besar bagi para siswa. Jumlah peserta SNMPTN yang semakin meningkat membuat persaingan semakin ketat.
Persaingan pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri seringkali terjadi karena pemilihan jurusan yang tidak tepat dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Kuota terbatas, akan tetapi peminatnya cukup banyak. Hal inilah yang menyebabkan membengkaknya peserta di suatu jurusan tertentu saja. Perbedaan yang cukup signifikan terjadi pada jurusan yang isitilahnya sedang populer dan dianggap prospeknya bagus dengan jurusan yang biasa saja. Contohnya yaitu jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Animo peserta yang memilih jurusan PGSD 2 tahun belakangan ini meningkat drastis. Tidak heran lagi, pasalnya banyak orang membicarakan bahwa “PGSD itu prospeknya bagus, sudah masuk PGSD saja, besok juga akan ada pensiun masal”. Itulah sebabnya banyak yang ingin masuk PGSD. Entah itu berlatar belakang SMA dari IPA atau IPS, ataupun SMK. Tidak peduli benar-benar ingin jadi guru SD ataupun tidak.
Masalah seperti ini harus disikapi lebih bijak lagi. Walaupun persaingan untuk masuk PGSD semakin ketat, tidak begitu saja menggugurkan semangat peminatnya. Bahkan peminat masuk PGSD saja lebih besar dari jurusan Kedokteran yang sudah populer dan menjadi impian banyak siswa. Kuota yang terbatas, tidak mungkin akan tertampung semua. Dari sini akan muncul suatu permasalahan baru, yaitu peserta yang tidak tertampung akan memilih jurusan lain pada jalur masuk yang kedua. Tidak jarang ditemukan mahasiswa yang mengaku salah jurusan, karena hanya asal memilih jurusan saja yang penting bisa masuk. Kemudian akan berbuntut menjadi masalah baru lagi yaitu merasa tidak kerasan berada dalam jurusan yang tidak diminati membuat mereka yang sudah kuliah baik di Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta ingin mengikuti SNMPTN tahun berikutnya. Tentu saja ini menambah jumlah pesaing bagi lulusan baru dalam ujian masuk PTN. Rasanya tidak adil bagi lulusan baru harus bersaing dengan mereka yang sudah kuliah di PTN, namun inilah fenomena yang sudah biasa dan tak bisa dipungkiri, setiap orang punya haknya masing-masing untuk mendapat pendidikan yang layak, serta sesuai minat dan kemampuan.
Kembali pada permasalan, selain tergiur masuk PGSD karena akan ada pensiun masal, juga karena tergiur oleh program sertifikasi guru sehingga gaji guru naik jadi dua kali lipatnya. Tidak mampunya perguruan tinggi negeri menampung peserta yang ingin masuk PGSD, membuat beberapa perguruan tinggi swasta yang tadinya tidak punya jurusan PGSD sekarang tiba-tiba bermunculan jurusan PGSD. Dalam waktu singkat, PGSD menjadi idola. Impian para siswa.
Dulu, incaran profesi guru tak selaris manis sekarang ini, tak hanya karena orangtua basic-nya guru atau pendidik. Namun, banyak dari berbagi kalangan masyarakat mengidam-idamkan pendidikan guru sekolah dasar ini. Jika dipandang dari sisi lain akan berdampak negatif dari pekembangan yang cukup signifikan ini. Akan lain jadinya masuk karena sungguh-sungguh berminat jadi guru SD yang punya tanggung jawab besar terhadap anak bangsa, dengan masuk yang karena tergiur oleh iming-iming atau embel-embel sertifikasi dan berbagai tunjangan profesi.
Menjadi seorang guru SD membutuhkan kemampuan yang lebih. Karena menjadi guru pun tidak semudah yang dibayangkan. Banyak tantangan masa depan yang perlu dihadapi guru dalam menuntun anak didik sebagai generasi penerus bangsa. Dibutuhkan guru yang professional, dimana ada 4 kompetensi yaitu pedagogik, koginitif, sosial,dan kepribadian.  
Tidak boleh menganggap enteng menjadi guru SD, karena disinilah tahap perkembangan anak yang perlu dibina dalam masa golden age . Bukan hanya transfer ilmu pengetahuan atau akademik saja tapi juga pembentukan moral atau karakter anak sedari dini. Dilihat dari perkembangan zaman sekarang ini, tugas seorang guru sekolah dasar akan semakin besar. Tanggung jawab dalam pembentukan kepribadian siswa di sekolah merupakan andil guru sebagai agent of change.
Tak dapat dipungkiri jika semakin berkembangnya zaman dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi akan sangat berpengaruh pada pola hubungan interaksi di masyarakat. Globalisasi yang terjadi menantang moral bangsa yang kian merosot. Sehingga sebagai seorang guru sekolah dasar hendaknya mempunyai bekal moral yang baik juga dalam mendidik dan membimbing peserta didik. Agar bisa menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan yang luhur ke dalam ranah siswa. Dengan itu diharapkan dapat meminimalisir tindakan-tindakan yang melanggar norma.
Bagi para peminat PGSD harus punya secara ikhlas, bukan hanya karena suatu hal yang menguntungkan saja. Hendaknya calon peserta SNMPTN memikirkan pilihan jurusan yang terbaik, sesuai bakat, minat, dan yang terpenting adalah kemampuan. Agar tak terjadi sesuatu hal yang tidak diharapkan di suatu hari kelak. Hanya karena salah jurusan. Dalam dunia pendidikan tak sedikit ditemukan adanya mahasiswa yang salah jurusan entah itu sejak awal masuk ataupun sudah di tengah perjalanan karir perkuliahan (sudah semester akhir) sehingga akan sangat disayangkan sekali jika menyesal di kemudian hari.
Pengetahuan tentang jurusan dan program studi hendaknya kian digencarkan untuk disosialisasikan. Sehingga diharapkan para calon mahasiswa tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Karena keputusan untuk mengambil jurusan di perkuliahan ialah keputusan besar untuk masa depan. Untuk menjadi seorang guru harus menjiwai secara lahir dan batin. Dan hendaknya tetap menjadi patriot bangsa, pahlawan tanpa tanda jasa.


Nurul Khikmah
Mahasiswa PGSD FIP UNY